Label

Jumat, 16 Desember 2016

Its' Over, Really



It hurts like hell when someone makes you feel special then suddenly leaves you hanging, and you have to act like you don’t care at all.

Entah sudah berapa menit mereka hanya saling tatap, saling menghela napas panjang, dan saling memejamkan mata, penat. Putri tidak perlu waktu lama untuk memahami maksud sahabatnya itu, bagaimana ia menceritakan semuanya, bagaimana ia berusaha jujur pada Putri, sahabatnya, sahabat yang selalu Putri nobatkan sebagai –best friend sejak zaman belum kenal make over, naked, dan berbagai merk make up lainnya-

“So, Sa, do you love him ?”, tanya Putri menatap lekat pada manik mata Khansa. Yang ditanya hanya membalas tatapan mata Putri dengan berkaca-kaca. 



***
Ini adalah tentang Putri dan Radit. Mereka berdua adalah sahabat terbaik Khansa, yang ia kenalkan satu sama lain lalu menjalin kedekatan sebagaimana mestinya. Ini adalah tentang Putri yang memang menaruh rasa kepada Radit jauh sebelum Khansa berencana menjodohkan mereka berdua. Ini tentang Radit yang bagaimana hatinya, baik Putri ataupun Khansa tidak ada yang tau. Dan tentang Khansa, yang sejujurnya juga tidak bisa mengelak dari perasaan nya yang tumbuh untuk Radit.

Selama dekat dengan Radit, Putri pun tidak bisa menamakan sebuah nama pada hubungan mereka, apakah mereka memiliki hubungan atau tidak, sayangnya Putri sendiri tidak tahu. Selama ini ia hanya menjalaninya saja, didukung oleh Khansa yang merasa Putri dan Radit bisa menjadi pasangan yang serasi. Sedangkan Radit, merupakan laki-laki ter-manis yang pernah Putri kenal sehingga untuk menanyakan kejelasan hubungan mereka saja Putri enggan, enggan karena merasa tidak ingin kehilangan apa yang telah mereka bangun, walaupun mereka tidak memiliki nama untuk itu. 

Hingga pada akhirnya Radit tiba-tiba meninggalkan Putri, Khansa memeluk Putri dan mengutuk sahabat laki-lakinya itu. Bagaimana bisa ia melakukan ini pada seorang Putri ? Ia hanya seorang ‘jerk’ yang bahkan tidak bisa melihat ketulusan dari seorang Putri. Namun Putri selalu meyakinkan Khansa bahwa dirinya baik-baik saja, walaupun sebenarnya ia tidak tau berbentuk seperti apa hatinya saat ini, remukan, pecahan, atau kepingan, sama saja. Khansa terus merasa bersalah karena telah mengenalkan Radit pada Putri yang ternyata malah menyakiti sahabatnya itu.

“Udah lah Sa, bukan salah dia ini. Gue yang harusnya nyadar dari awal, he never look at me Sa. Dia gak pernah sayang sama gue. Jadi kalopun dia pengen pergi kayak sekarang ini, ya emang udah hak dia”, ucap Putri sambil menikmati ice cream vanilla nya. Eat your sorrow until there’s no more left.

See ? Bahkan saat Radit menyakiti Putri seperti itu pun, dia tetap bersikap seolah olah Radit berhak menyakitinya. “Ya tetep aja Put, gak seharusnya dia kayak gitu. Kalo dia emang gak suka dari awal sama elo, ya harusnya dia ngomong”, Khansa tetap kekeuh pada kekesalannya pada Radit.

“Yaudah sih, gue gak pengen juga denger apa-apa dari dia. Kalo ternyata dia lebih bahagia sama ceweknya yang sekarang itu, lah gue bisa apa sih Sa? Bahkan nanyain kita pernah punya hubungan apa aja gue gak bisa”, ucap Putri.

“Tapi serius, masa sih lo ga pengen tau gitu sebenernya Radit nganggep lo itu apa ? Hubungan kalian itu apa ?”, tanya Khansa, gemas pada tingkah sahabatnya itu yang seakan tidak ingin memperjelas status dan kedudukannya di mata laki-laki itu.

Putri melahap potongan waffle nya yang terakhir, sambil membersihkan mulutnya dari sisa-sisa ice cream dengan tissu. “Lo aja yang nanya, kan sahabatnya, kalo lo penasaran lo tanya aja langsung ke dia”, jawabnya ogah-ogahan.

Khansa mengernyitkan dahi, seolah berpikir dengan saran Putri. Iya, seharusnya hal itu tidak sulit untuk Khansa lakukan, dan Radit pasti memberi jawaban padanya. 

Putri tertawa melihat kebingungan Khansa. “Yaudah ah ga usah dipikirin dan ga usah lo tanya juga, gue cuma bercanda kali Sa. Buat apa gue tau jawaban yang gue sendiri sudah tau jawabannya”.

Kali ini Putri serius, ia tidak ingin sahabatnya merasa cemas dengan rasa bersalah yang sebenarnya tidak ada hubungannya juga dengan Khansa, apa yang telah dia alami, apa yang dilakukan Radit saat ini juga bukan bagian dari rencana dan keinginan Khansa dan Putri sendiri tentunya kan. “Lo ga usah merasa bersalah gitu ah, bukan salah lo, litterally ini bukan salah lo. Ya emang udah takdirnya aja kali kayak gini. Yang gue mau sekarang cuma bener-bener hilang dari hidupnya Radit, cukup gue delcont aja nih kontaknya, instagramnya dan semua kontak dia yang gue punya, and move on”, seru Putri sambil menunjukkan handphone nya yang sudah tidak ada lagi Radit di berbagai kontak aplikasi chat yang ia miliki. 

Khansa tersenyum. “I love you to the moon and back dah Put !”, seraya memeluk sahabatnya itu.

“Kalo kata gue, i love you to the dunya till jannah dah Sa”, lalu mereka berdua sama-sama tertawa. Sejak saat itu tidak ada lagi perbincangan mengenai Radit. Namun beberapa kali Khansa masih sering keceplosan menceritakan bagaimana kehidupan Radit saat ini. Putri dan Radit boleh sudah tidak berhubungan, tetapi Khansa dan Radit yang memang merupakan sahabat satu kampus, masih tetap saling berkomunikasi, karena hal itu juga yang diinginkan Putri. Ia tidak ingin hubungannya dengan Radit juga mempengaruhi hubungan Khansa dengan Radit. Diluar itu semua, Radit cukup baik untuk dijadikan sebagai sahabat.

Putri sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap Radit, dengan tidak berhubungan dengan Radit memudahkannya untuk move on dari laki-laki itu. Walaupun Khansa selalu bilang bahwa beberap kali percakapan ia dengan Radit membahas Putri, dan bagaimana Radit menyampaikan salam untuk Putri yang hanya ditanggapi Putri dengan senyum. 

“Dia minta kontak lo nih Put, kasih gak ?” tanya Khansa. Mereka saat ini sedang lunch di salah satu restoran favorit mereka sejak jaman SMP.

“Menurut lo gimana ?” Putri balik bertanya sambil mengunyah steak di mulutnya.

Khansa mengangkat bahu. “Kasih aja sih, lagian dia sekarang juga udah gak sama ceweknya itu kok Put, dan mereka gak mungkin balik lagi. Itu Radit udah gedek banget sama cewek itu”, Khansa tertawa mengingat bagaimana cerita Radit tentang cewek yang membuatnya berlalu dari Putri dan menyebutnya sebagai hasil dari perbuatannya karena telah menyakiti Putri. “Lo nya gimana ? Kalo temenan sama dia lagi gapapa?".

Putri terlihat berpikir, sedetik kemudian ia mengangguk. “Yaudah kasih aja, lagian gue juga udah ga gimana-gimana ini sama dia. Yah sebagai bukti aja kalo gue baik-baik aja”, jawab Putri. Khansa mengangguk dan kemudian memberi kontak Putri kepada Radit. 

Setelah aksi pemberian kontak itu, Radit tidak langsung menghubungi Putri. Sebenarnya Putri juga bertanya-tanya, apa Radit tidak merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan dulu? Sebegitu tidak pentingnya kah Putri dimatanya ? Namun setelah beberapa minggu berlalu, datang pesan permintaan maaf dari Radit.

Raditya Nugraha
Put, sorry for hurting you. Really.
Aku bener-bener minta maaf Put. Aku ga bermaksud kayak gitu.

                                                Putri Sarasvati
                                                It’s Ok Dit. Bukan salah kamu.
                                                Emang dari awal kita ga ada apa-apa kan, jd ga masalah kok
Raditya Nugraha
Thankyou Putri :)

Khansa tersenyum membaca chat dari Radit yang Putri tunjukkan dan beberapa chat lainnya yang membuat senyumnya semakin mengembang. Sudah hampir dua bulan dari aksi pemberian kontak itu dan intensitas komunikasi Radit dan Putri juga meningkat. Sebenarnya Putri juga tidak mengerti bagaimana bisa ia welcome lagi dari orang yang jelas-jelas sudah pernah mem-berantak-kan hatinya. Ia hanya melupakan begitu saja, kembali senyum-senyum ketika kembali berkomunikasi dengan Radit, dan mengiyakan ajakan Radit untuk bertemu. Memang, perempuan jadi lebih gampangan ketika menyangkut dengan orang yang sudah terlanjur ia sayang. Bukan gampangan dalam arti negatif. Tapi gampangan dalam hal gampang memaafkan, gampang menerima ajakan, dan gampang percaya kembali, termasuk Putri.

“Gue takut aja Sa”, ungkap Putri dari kegelisahannya beberapa hari ini menyikapi bagaimana kedekatannya lagi dengan Radit.

“Dia bener-bener kali ini Put. Gue udah ngomong ama dia, kalo untuk kali ini dia cuman lagi-lagi mainin lo, dia gak bakalan gue maafin, gue gak bakalan mau jadi sahabatnya lagi. Tapi kali ini dia serius, dia pengen maju sama lo, dia pengen jadiin lo satu –satunya”, Khansa meyakinkan Putri. Putri menatap kosong Khansa, ia ingin percaya tapi takut. Tapi Khansa tidak berbohong, sebelum ia mengizinkan Radit kembali menemui Putri, ia terlebih dahulu mewanti-wanti Radit agar jika tujuannya kali ini hanya untuk kembali menyakiti Putri, lebih baik tidak usah sama sekali. Dan jawaban Radit saat itu. “Gue pengen coba sama Putri, Sa” dan Khansa melihat kesungguhan di mata Radit saat mengucapkan hal itu yang membuat Khansa percaya dan memegang perkataan Radit.

Khansa menggenggam erat tangan Putri. “Sahabat gue itu aslinya baik kok, dia laki-laki yang baik. Kalo lo mau percaya lagi sama dia silahkan gue dukung, tapi kalo lo gak bisa juga gak papa Put. Tapi gue liat masih ada rasa sayang di mata lo untuk dia kan?”. Putri mengangguk.

“Jalanin aja, gue jamin kali ini dia serius Put”, ucap Khansa lagi. Putri memeluk Khansa, baiklah ia akan kembali mencoba, kembali mencoba menjatuhkan hatinya pada laki-laki itu, laki-laki yang sempat pergi meninggalkannya. Ia tidak memegang kata-kata Khansa, karena ia tau tidak ada yang bisa menjamin hati orang kedepannya akan seperti apa, begitu juga Khansa. Ia hanya ingin mencoba, mencoba kembali merebut hati Radit, mencoba kembali membuat Radit jatuh cinta padanya, ya, ia akan mencoba.

Kamu boleh mencoba, tapi tidak ada yang bisa memaksakan hati seseorang, apalagi itu cinta. Cinta tidak bisa dipaksa, bagaimanapun, seperti apapun, laki-laki kalau dia memang sudah tidak cinta, mau sampai kapanpun baginya juga tidak.

Kalimat itu yang selalu terngiang di kepala Putri, dan kalimat itu memang benar. Sudah berapa lama Radit dan Putri berkomunikasi kembali, jalan, makan, nonton, dan berbagai aktivitas lainnya. Yang Putri tau Radit sedang mencoba dekat dengannya, Radit sedang berusaha menumbuhkan perasaan dalam hatinya untuk Putri, dan yang Putri tau, Radit gagal melakukan itu semua. Radit memang tidak bisa mencintainya, dan tidak akan pernah bisa. Yang selama ini ia lakukan bersama Radit hanya murni memiliki bakcground sebagai teman, bukan sebagai seseorang yang saling mencintai. Khansa pun sudah tau hal itu dan kembali mengungkapkan kekesalannya pada Radit.

What the hell banget sih tu orang Put”. Dan beberapa makiannya untuk sahabatnya sendiri, sedangkan Putri hanya tersenyum, merasa bodoh, merutuki dirinya sendiri kenapa harus kembali terbawa perasaannya selama ini. Dan sejak saat itu Khansa melarang Putri kembali berhubungan dengan Radit, ia tau sahabat laki-lakinya itu belum cukup serius untuk menjalin komitmen, berbeda dengan Putri yang saat ini ia tidak lagi ingin main-main dalam suatu hubungan. Putri mengiyakan. Namun beberapa kali, mereka masih berkomunikasi, hanya untuk bertukar canda, dan berakhir pergi berdua, entah untuk sekedar makan, nonton, ataupun nongkrong dan saling tukar cerita. Putri menikmati hal itu. Baginya tidak apa Radit tidak bisa mencintainya, tapi Radit masih ingin bersamanya seperti ini itu sudah lebih dari cukup. Ia masih bisa bertukar cerita bersama Radit seperti ini pun sudah menjadi hal yang membahagiakannya. Ia sudah tidak lagi menanyakan hubungan apa antara ia dan Radit, karena ia tau tidak akan pernah ada hubungan apa-apa antara ia dan Radit saat ini ataupun di masa depan. Yang dilakukan Radit sudah cukup membuka mata Putri bahwa, mereka tidak akan pernah bisa saling mengisi satu sama lain, mereka tidak akan pernah bisa saling melengkapi, apalagi saling mencintai, karena hanya akan berakhir Putri yang mencintainya, sedangkan Radit tidak.

Hal yang jauh dari perhatian Putri adalah bagaimana perasaan Khansa yang sebenarnya. Putri memang sudah mengira, dan sering bertanya-tanya dengan kedekatan Khansa dan Radit, apakah tidak pernah sedikitpun terbesit perasaan sayang diantara keduanya ? Melihat bagaimana hubungan sahabat yang dimiliki Khansa dan Radit, yang dilihatnya malah lebih serasi dibanding dengan dirinya bersama Radit. Tapi Putri percaya, Khansa memang murni bersahabat dengan Radit, walaupun ia tidak percaya dengan hubungan laki-laki dan perempuan yang berstatuskan sahabat adalah benar-benar murni sebagai sahabat, yah setidaknya ia mencoba percaya. Hingga pada suatu hari, apa yang perasaannya katakan itu benar. Bagaimanapun Khansa itu perempuan, sama sepertinya, Khansa juga punya hati yang juga bisa terbawa perasaan jika perlakuan Radit begitu manis padanya, ada saat titik terendah dan tertingginya, bagaimana Radit selalu menjadi orang yang paling bisa ia hubungi saat ingin bercerita, bagaimana Radit selalu menjadi orang yang membuatnya merasa nyaman untuk menceritakan apapun itu, bagaimana Radit adalah orang yang menemaninya saat ia kehilangan orang yang paling ia sayang. Setidaknya, seperti itu cerita yang barusan Putri dengar dari Khansa, setelah pengakuannya beberapa saat lalu, bahwa Khansa tidak mengerti perasaan apa yang ia miliki untuk Radit.

“Gue gak ngerti Put kenapa gue jujur kayak gini sama lo. Gue hanya gak bisa bohong sama lo, gue sayang sama lo”, matanya berkaca-kaca.

“Iya ih gapapa Sa, cerita aja. Kenapa sebenernya lo sama Radit ?”, tanya Putri. Jauh di dalam hatinya ia juga sedang menyiapkan jawaban yang akan ia dengar dari Khansa, ia cukup tau jawaban seperti apa itu. Bukan jawaban yang akan menimbulkan bunga-bunga dalam hatinya, tentunya.

“Gimana sih Put rasanya lo punya orang yang selalu ada buat lo, di saat up and down lo dia salah satu orang yang paling cepet memberikan dukungannya, orang itu bersedia lo gangguin hanya sekedar nemenin lo belanja ke supermarket, orang itu selalu ada nemenin lo saat saat terburuk lo, orang itu selalu membuat lo nyaman, bahkan untuk menceritakan hal-hal buruk dari diri lo sekalipun. Gue gak ngerti lagi Put gimana ngomong ini ke lo”, Khansa mulai terisak. Putri masih menatapnya dengan sorot meminta penjelasan.

“Dan belakangan ini komunikasi kita intens banget, waktu itu gue jalan sama dia hanya sekedar nemenin dia makan, dan setelahnya kita telponan sampai jam 2 pagi, yang entah itu ngomongin apa Put, parahnya pagi harinya yang biasanya dia biasa aja ke gue, ini dia ngelakuin hal yang gak biasa Put”, Khansa menyeka air matanya.

“Udah ga usah diceritain hal yang gak biasanya itu apa”, potong Putri cepat lalu tersenyum sambil membasahi kerongkongannya dengan Mocca Float yang ia pesan.

“Entah kenapa saat itu gue baper se baper bapernya Put sama dia. Gue tau ini salah, dan gue tau dia juga bakalan biasa aja menyikapi ini, cuman gue disini yang terlalu bertingkah dan berperasaan lebih. Dan gue jujur sama lo gini gak bermaksud apa apa, gue cuman gak mau bohong aja sama lo”,  ucap Khansa lirih.

“Gue ngerti kok Sa. Lagian lo tau kan gue ama dia juga gak ada masa depan. Bukan gue underestimate sama dia, tapi karena dia emang gak pernah suka sama gue Put”, ucap Putri. Ia sangat menghargai bagaimana Khansa jujur padanya. Setidaknya saat ini ia tau, alasan ketidakmungkinan hubungannya akan berkembang bersama Radit bertambah, karena sahabatnya ini juga menaruh rasa pada laki-laki itu.

“Gue ngerasa bersalah aja, saat gue mati-matian bilang sama lo untuk ngontrol perasaan lo ke Radit, jangan mau terlalu terbawa perasaan gara-gara Radit, tapi malah gue yang mengingkari perkataan gue sendiri Put”, setetes air mata kembali jatuh di pipi Khansa.

“Gue lagi ngelakuin itu kok Sa, udah ah lo jangan khawatir, itu hak lo untuk cinta sama siapa aja. Masalah gue sama Radit, gue rasa udah selesai sih, gue gak akan berhubungan lagi ama dia, itu udah bulat jadi  keputusan gue sekarang”, Putri yakin dengan janjinya kali ini, ia tidak akan kalah.

Khansa memeluk Putri. “Maafin gue Put, maafin”, ia terisak. Mata Putri pun ikut berkaca-kaca, sambil mengelus punggung Khansa.

“Cinta sama orang,ngerasa nyaman sama orang itu bukan perbuatan dosa kok Sa. Really”, ia menarik napas panjang. “So, Sa, do you love him?”

“Gak Put, kalo gue bisa memanipulasi cinta dan memanipulasi jodoh gue, gue gak mau sama dia”, bantah Khansa. Putri tersenyum. Bahkan hubungan persahabatannya dengan Khansa jauh lebih berharga dari sekedar laki-laki yang bagaimana perasaannya yang sesungguhnya saja, sampai saat ini Putri tidak tau.

Yang Putri juga tidak tau adalah bagaimana perasaannya saat ini. Dia tidak merasa marah sama sekali dengan Khansa, ia juga tidak merasa Khansa mengkhianatinya, seperti yang Khansa rasa. Ia hanya merasa kecewa, menyesal, kenapa ia tidak begitu pintar membaca situasi. Bahkan sebagai orang yang Khansa bilang akan dijadikan satu-satunya oleh Raditpun, Radit tidak pernah menelponnya sampai jam 2 dini hari seperti itu, Radit tidak pernah mengucapkan kata-kata manis, Radit tidak pernah berkeluh kesah tentang bagaimana kesehariannya, Radit tidak merasa nyaman dengannya, oh really Putri begitu bodoh. Kebodohan itulah yang membuatnya sakit hingga saat ini. Membayangkan bagaimana Khansa dan Radit yang memang seolah-olah ditakdirkan untuk bersama dan saling melengkapi, sampai laki-laki itu tidak masalah menghabiskan sisa malam hanya untuk menelpon Khansa. Di bagian mana hal itu tidak menguatkan bahwa sesungguhnya Radit juga memendam rasa untuk Khansa ? Mereka sama-sama memiliki perasaan lebih dari sekedar sahabat, hanya diantaranya tidak ada yang memulai untuk mengakuinya, tidak ada yang mulai membuka sedikit celah kegengsian bahkan hanya untuk sekedar merasakan cinta itu hadir diantara mereka. Setidaknya seperti itulah spekulasi Putri untuk keadaan saat ini, ia tidak ingin merasa naif dan menutup mata dari cinta yang tersirat dari keduanya.

Putri tidak pernah menyalahkan Khansa, sungguh siapa yang bisa mengelak dari rasa cinta heh ? Khansa mempunyai hak untuk ini semua, tapi Khansa tidak memiliki hak untuk disakiti, tidak ada yang bisa menyakiti sahabatnya itu, setidaknya seperti itulah harapan Putri untuk Khansa saat ini.

Putri juga tidak pernah menyalahkan Radit, jika Radit tidak bisa mencintainya, ia tau Radit telah mencoba, tapi lagi-lagi siapa yang bisa memaksa cinta ? Karena memang dari awal Putri sudah tau, Radit tidak mencintainya dan tidak bisa mencintainya. Ia hanya ingin kebahagiaan untuk laki-laki itu.

Dan untuk dirinya sendiri, Putri memilih mundur, entah bagaimana kelanjutan hubungan Khansa dan Radit, ia sungguh tidak ingin tahu. Asalkan hubungan persahabatannya dengan Khansa masih baik-baik saja, ia akan baik-baik saja. Ia hanya masih memerlukan waktu untuk menerima apa yang sudah dilihat dan ditangkap oleh mata hatinya sendiri. Ia hanya ingin melanjutkan hidupnya dan benar-benar menghapus nama Radit dari isi kepalanya and act like she didn’t care at all.

7 komentar:

  1. buat ceritanya, aku gak bakal komentar karena semua punya seleranya masing-masing. tapi mau nanya nih, nulis di wattpad juga gak? kalo iya mau baca2 lagi nih, kayaknya menarik

    ditunggu kunjungan baliknya ke estolagi.blogspot.com ya, kalo bsa sekalian komentar hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya semua tergantung selera ya hehe

      Kebetulan gak nulis di wattpad nih :D

      Siaapp akan saya kunjungi hehe

      Hapus
  2. Waaah.. pinter bikin cerita yah. Salam kenal ya.

    BalasHapus
  3. Cuman mau bilang kalo sebaiknya jangan terlalu banyak menyebut nama tokoh dalam satu paragraf. Kamu bisa ganti dengan kata ganti seperti, "Ia, dia atau dirinya." Salam kenal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah iya ya kebanyakan nyebut nama, terimakasih loh mas saran nya, salam kenal kembali :D

      Hapus
  4. BROKER TERPERCAYA
    TRADING ONLINE INDONESIA
    PILIHAN TRADER #1
    - Tanpa Komisi dan Bebas Biaya Admin.
    - Sistem Edukasi Professional
    - Trading di peralatan apa pun
    - Ada banyak alat analisis
    - Sistem penarikan yang mudah dan dipercaya
    - Transaksi Deposit dan Withdrawal TERCEPAT
    Yukk!!! Segera bergabung di Hashtag Option trading lebih mudah dan rasakan pengalaman trading yang light.
    Nikmati payout hingga 80% dan Bonus Depo pertama 10%** T&C Applied dengan minimal depo 50.000,- bebas biaya admin
    Proses deposit via transfer bank lokal yang cepat dan withdrawal dengan metode yang sama
    Anda juga dapat bonus Referral 1% dari profit investasi tanpa turnover......

    Kunjungi website kami di www.hashtagoption.com Rasakan pengalaman trading yang luar biasa!!!

    BalasHapus